Di sebagian sisa magrib, Kucoba membacamu dengan hati
Gelisahmu, rasa di jiwamu pun seakan meledak-ledak,
memaksa setiap jengkal pintu dan jendela2nya berderit
membuka diri paksa!
Pada sisa cahya lembayung di tepian senja.
Kucoba memahamimu dengan kearifan yang tersisa.
Mungkin kau belum merasa bahwa juga ada benak-benak
kegelisahan yang menggayut pada setiap sudut hariku.
Kegelisahan yang dihiasi oleh hanya sedikit
keromantisan, namun membutuhkan tidak sedikit
keberanian dan kepercayaan atas komitmen antara kita.
Barangkali juga kau merasa belum saatnya membuka
diri dan mencoba mendamaikan hatimu lewat sekulum
senyum tulus keperempuanan yang kau pampang di
teras-teras kelelakian, saat malam perlahan hadir
Mungkin juga benar menganggapmu bagai sebongkah batu
yang slalu berharap dapat diterima bumi tanpa pongah,
sementara setiap waktu bulir-bulir hujan jatuh
menimpamu dari tingginya langit yang perlahan namun
pasti kan menguraikan wujudmu.
Di sisa lembaran yang tergesa dikejar bayang-bayang waktu
Kuberusaha menulismu dengan harapan.
Dalam kesendirian kita, semoga sedikit derit pintu
hati bisa menyisakan sepetak ruang di jiwa untuk
berdiskusi dan saling bertukar harapan, menafikkan
mereka yang belum mengerti tentang kita apa adanya,
menghapus nisan-nisan pemikiran mereka yang tidak
menyukai kita.
Dan aku, masih punya asa untuk mengajakmu beranjak,
mencari dunia baru untuk kita tapaki sama-sama, bukan
dalam kesendirian, tetapi bersama angan-angan yang
kemarin telah membesarkan jiwa kita.
Kelak, kita kan bersorak tentang siapa yang menjadi
jawara dalam dialektika keremajaan pemikiran kita
sekarang, dan memberinya hadiah, lantas mengajaknya
menjadi warga baru dalam dunia kita yang memerdekakan,
membesarkannya dan memugarnya menjadi penghias taman
kecintaan kita akan toleransi dan kesalingpemahamanan
yang fitrah.
Bahwa engkau perempuan dan aku laki-laki, itu
sungguh jelas, tetapi jangan pula sangsikan jika di
dalam dirimu akan kujumpai diriku dan mengajaknya
berbincang-bincang tentang keperempuanan,
juga engkau yang bisa menemukan sejati keperempuananmu dalam
kelaki-lakianku lalu membawanya pergi untuk membongkar
konstruksi peradaban tentang keperkasaan dan
imperialisme kaum laki-laki.
Kita adalah satu meskipun tidak setiap saat
menyatu, walaupun juga terpaut jarak diantaranya.
Itulah relasi yang memerdekakan; seperti persis yang
engkau gelisahkan saat ini dan yang telah merubahmu
menjadi batu atau seperti sebongkah es batu, mungkin
karena engkau merasa tidak bisa atau belum mampu
mendiskusikannya dengan yang lain dan meyakinkan
mereka akan kebenaran dan kesungguhan
harapan-harapanmu.
Tetapi keyakinanmu akan kebenaran harapan-harapanmu kini
membuatku percaya bahwa di balik semuanya bersembunyi
sembulan-sembulan cahaya cinta yang meronakan setiap
lekuk tubuh dan mengusapnya dengan lembut, memberinya
keteduhan dan segenap kepercayaan akan wujud setiap
jejak harapan.
Karena semua itu pula, hingga ku berani merangkaikan
kata dan menyusunnya menjadi setulus kalimat
pengharapan tuk mengajakmu merdeka bersama.