menanti senja

cuma tentang sepotong senja yang dititipkan pada saat senja mulai menepi, cuma tentang cerita biasa dalam hidup yang biasa, tentang rasa yang biasa dan tentang asa yang juga biasa dalam jalinan takdir biasa manusia...

Thursday, March 30, 2006

berbagi suami, layakkah poligami?

FILM berjudul "Berbagi Suami", yang mengangkat soal Poligami karya dari Nia Dinata disambut baik oleh masyarakat. Film ini selain memberikan contoh kalau Poligami layak atau tidak, tergantung kepada yang menjalankan. Bahkan cerita film ini tak sekedar berangan-angan namun diawali dengan sebuah riset sampai ke negara Hongkong.
Ceritanya memang sangat realita keseharian yang terjadi didalam hidup di masyarakat dan Nia mencoba menghadirkannya melalui sebuah film.
Nah kabarnya film ini mendapat sambutan yang luar biasa. Setiap bioskop yang
menayangkannya, rata-rata ramai penonton. Sampai hari ini, film ini masih saja beredar dan ramai penonton. tak hanya orang dewasa, para remajapun ternyata
suka dengan film ini. Seperti apakah filmnya?
Menurut sang sutradara, film ini bukan tak sekedar berangan-angan namun
sebenarnya lewat proses observasi dan riset. Dan film ini adalah kisah poligami dari
sudut pandang perempuan.“Saya ingin menyuguhkan cerita yang sederhana saja,
dekat dengan kenyataan hidup sehari-hari, dengan konflik-konflik yang riil dan mudah-mudahan bisa lebih membuka mata dan hati kita dalam menyikapi poligami, juga dalam mengambil keputusan dikehidupan pernikahan kita, saat ini bagi yang
sudah menikah, maupun di masa datang, bagi para lajang,” tutur Nia tentang filmnya ini. Film Berbagi Suami terbagi dalam tiga segmen cerita yaitu cerita Salma, cerita Siti dan cerita Ming. Berbagi Suami adalah tuturan para perempuan yang menjalani kehidupan dipoligami dari kalangan usia, sosial dan etnis yang berbeda: Salma yang
diperankan Jajang C Noer mewakili kalangan elit berlatar kultur Betawi di usia 50-an.Siti yang diperankan Shanty dari pelosok Jawa, yang usianya mendekati 30-an; dan Ming yang diperankan Dominique, gadis keturunan Tionghoa yang masih berusia 19 tahun. Ketiganya pernah bertemu meski tidak terlalu saling mengenal, namun mereka mengalami kondisi yang mirip: dipoligami. Berbagi Suami adalah penuturan Salma, Siti dan Ming tentang hidup dalam poligami.Bagi para pemerannya, Berbagi Suami menjadi film yang spesial karena berbagai alasan. “Film ini sangat spesial karena tema yang diangkat istimewa, luar biasa dan bisa kontroversial. Tema yang penting, tema yang menantang. Memainkan tokoh sebagai istri pertama dengan tema ini, poligami. Tentu saja sangat-sangat menarik karena tema ini menyangkut perempuan, terutama sekali menyangkut tentang keadaan perempuan,” jelas Jajang.

Anak hasil poligami dari tiga istri.
Berawal dari cerita seorang Politikus yang
diperankan oleh El-Manik yang kaya raya dengan istri yang sangat setia dan punya satu anak. Namun tanpa disadari, diam-diam Elmanik menikah lagi dengan seorang perempuan. Yang lebih mengejutkan, perempuan yang dinikahi oleh El-Manik, diketahui oleh istri pertamanya setelah punya anak. Diam-diam si suami memang suka menyimpan rahasia itu kepada istri pertamanya.
Meski sudah kepergok punya istri lagi, El-Manik tak kapok, malah ternyata nikah lagi dengan beberapa perempuan. Sampai ajalpun, tiba-tiba ada istri simpanan lain lagi yang datang yang belum diketahui. Sang suami ternyata diam-diam nikah sampai lima kali tanpa diketahui oleh isrti pertamannya. karena itu, anak lelakinya hasil dari pernikahaan dengan istri pertama, mengatakan kalau ayahnya memang suka memberi kejutan. Yang dimaksud kejutan adalah, diam-diam nikah.

Cerita lain yang lebih menarik lagi, salah seorang suami yang tega menempatkan tiga istrinya dalam satu rumah. Dan akhirnya terjadilah adegan yang lucu dan unik diantara kehidupan istri-istrinya. Nia juga menyuguhkan kehidupan salah satu masyarakat dari kultur Tionghoa. Disini Nia mengangkat cerita seorang pengusaha bebek panggang yang diam-diam menikahi pelayannya. Dan pelayannya rela dinikahi karena dejatnya ingin naik karena punya harta. Sipelayan yang diperankan oleh model
bernama Dominique, mengaku cape dan lelah menghadapi hidup susah dan akhirnya rela dinikahi oleh bosnya dan rela pula ditinggalkan lagi begitu saja oleh bosnya dan bahkan rela harta yang telah diberikan oleh bosnya, diambil lagi oleh istri bos karena tak suka.
Soal cerita ini, artis Shanty menilai bahwa menonton Berbagi Suami bagi sebagian orang, mungkin akan seperti menonton diri sendiri karena pada dasarnya banyak sekali orang yang punya pengalaman berkaitan dengan poligami. Sementara bagi Dominique yang
berakting di layar lebar untuk pertama kalinya, ia harus sungguh-sungguh 100% berkonsentrasi karena cukup sulit baginya berperan dalam film ini yang mengangkat tema poligami yang sangat kompleks.
Seorang wanita yang rela dinikahi karena harta
Film ini didukung oleh seabrek artis seperti Rieke Dyah Pitaloka, Ria Irawan, Nungki Kusumastuti, Ira Maya Sopha, El Manik, Tio Pakusadewo, dan Winky Wiryawan serta bintang-bintang lainnya yang muncul sebagai cameo seperti Aming, Maudy Kusnaedi, Alvin Adam, Erwin Parengkuan dan Lula Kamal.
Dalam Berbagi Suami Nia Dinata menggandeng para pekerja film yang sudah tidak diragukan lagi yakni Ipung Rachmat Syaiful sebagai director of photography, Yoga K. Koesprapto sebagai editor, Wencislaus sebagai art director dan Claude Kunetz sebagai co-producer dari WallWorks Perancis.
Sementara untuk soundtracknya, produksi Kalyana Shira Films ini bekerjasama dengan Aksara Records lewat band Sore dan White Shoes and The Couples Company yang menggarap lagu serta scoring film ini.
Penasaran? Tunggu saja tanggal mainnya pada 23 Maret 2006 mendatang.

Wednesday, March 29, 2006

buram....

gelap sinaranmu
jatuh dalam luka pagi kemarin
aku melihatmu
terluka dan jatuh

aku ingin menjagamu lelakiku
agar tak ada lagi luka itu

tapi masih adakah celah
di bilik hatimu...
biar kukais rindu
yang kemarin kukemas
dalam kardus itu....


* when You love someone, you couldnt reach all the pain...but maybe you can hold his pain...*(f my man, kept stronger ok? You can be a fighter, dont give up. I always be here f you...)

Batam, akhir maret 2006

jangkrik

Jangkrik, mungkin Anda tau bunyinya pun pasti tau, krik..krik...kadang suara jangkrik bisa membuat kita tenang, dan damai mendengarkan suara alam katanya. Tapi, kadang suara jangkrik juga bisa bikin kita stres apalagi kalau lagi sakit gigi dan sakit hati (apa hubungannya? Ya nggak tau tapi setau saya ya kadang begitu)
Tapi, ini bukan untuk mendeskriditkan makhluk yang bernama jangkrik, tapi sekedar kata dan kebetulan kata jangkrik lebih enak saja:) sekedar cerita tentang satu malam yang terpaksa pakai kata jangkrik!

Jangkrik! Hanya itu kata yang bisa kami ucapkan. Padahal, malam itu kami bertiga sudah berharap, dari ''sowan'' ke ''teman itu'' dapat membantu mengatasi ''sakit kanker (kantong kering) si teman. ''Buat beli susu anakku''.
Setelah jumpa dengan si ''teman'' di salah satu tempat makan, hidangan khas sea food tersedia dengan ditemani tiga botol tiger dan dua kaleng bir hitam. Dari aromanya, tentunya kalau saya yang meminumnya? Saya bakalan nggak bangun-bangun, la wong dari baunya saja rasanya sudah bikin saya puyeng jadi nggak perlu nyoba pun saya sudah bisa tau bagaimana akibatnya kalau saya nyoba:) Si ''teman'' pun rupanya bukan cuma ingin ditemani ngobrol tapi kami juga menemani ''teman lama'' yang katanya kangen sama ''teman'' tadi. Akhirnya, terjadilah curhat dan nostalgia diantara mereka. Pembicaraan mengalir diiringi dengan derai tawa dan sesekali kisah hidup terungkap satu persatu walaupun tidak runut. Tak terasa, bincang santai ini melarutkan kami hingga pukul 01.00 lebih. Meski pun saya biasanya tidur pukul 23.00 atau kadang malah lebih cepat saat penat dan tubuh tak bisa diajak kompromi lagi. Tapi, malam ini saya coba untuk bertahan dari rasa kantuk yang menyerang. Usai ngalor-ngidul sampai pukul 2 pagi akhirnya kami pun pamit pada si ''teman''. Saat itu kami berharap bisa dibekali oleh si teman. Tapi, nyatanya sampai kami berpisah pun tak ada, bekal yang bisa dibawa. ''Jangkrik! padahal aku butuh duit buat susu anakku,''
''Kamu yang salah, kok tadi ga langsung ditodong saja, minta mentahnya nggak perlu nungu sampai pagi,''ketus sobatku menyahut.
Saya jadi berpikir, kadang kalau memang bukan rezeki, dikejar sampai mana pun, toh dia tak kunjung datang. Tapi, coba kalau memang sudah rezekinya. Duduk manis di depan komputer pun bisa dapat rezeki. Ah, iya malam ini memang jangkrik! Karena kami tak dapat apa pun yang bisa menenangkan anak temanku dari rasa haus karena tidak ada susu besok pagi.

***Thats it's life. You can run away so far away but you can't changeing your destinity.....***

Batam, akhir November 2005