Gadis Pantai adalah roman yang tidak selesai, karena sejatinya roman karya Pramoedya Ananta Toer ini adalah trilogi. Akibat 'keganasan' penguasa pada masa lalu, dua buku lanjutan gadis pantai musnah.
Menurut Pramoedya, Gadis Pantai (namanya memang demikian alias tak bernama) mengisahkan tentang kehidupan seorang gadis belia di pesisir pantai utara Jawa tengah, di sebuah kampung nelayan yang miskin, berlokasi di Kabupaten Rembang.
Tak seperti perempuan pesisir yang berkulit hitam, Gadis Pantai berkulit bersih dengan mata sipit. Wajah manisnya memikat hati seorang pembesar santri setempat, seorang Jawa yang bekerja pada administrasi Belanda. Pembesar yang disebut dengan 'Bendoro' digambarkan sebagai priyayi halus yang sering berganti istri, selanjutnya sang istri akan 'dicerai' atau dicampakkan tak lama setelah melahirkan anak. Anak yang dilahirkan para istri itu semuanya diasuh oleh pembantu Bendoro.
Pengertian 'istri' di sini adalah perempuan yang melayani kebutuhan seks Bendoro sampai kemudian dia memutuskan menikah dengan perempuan ningrat yang sekelas dengannya. Karena tak dianggap 'sekelas', pernikahan Gadis Pantai diwakili oleh sebuah keris yang merupakan wakil dari Bendoro.
Gadis Pantai semula tak memahami apa arti pernikahan itu, namun Emak dan Bapaknya mendesak bahwa Gadis Pantai akan menjadi priyayi jika bersedia diboyong ke karesidenan, tempat tinggal Bendoro. Perkawinan itu semacam prestise bagi Gadis Pantai.
Hingga suatu ketika, sekira tiga tahun setelahnya, Gadis Pantai melahirkan bayi perempuan. Baru tiga bulan menyusui Gadis Pantai diusir dari karesidenan karena Bendoro telah menceraikannya. Bendoro akan menikahi priyayi dari Demak yang lebih berkuasa daripadanya.
Gadis Pantai tercampak. Dia tak punya apa-apa, anak yang dilahirkannya bukanlah anaknya, dia milik Bendoro, yang kelak akan menjadi majikannya. Gadis Pantai, dalam usia yang masih begitu belia telah kehilangan segalanya. Karena begitu malu kembali ke kampungnya, Gadis Pantai dengan perasaan remuk memilih berputar arah ke selatan, ke Blora. Kisah sekuel Gadis Pantai terhenti di sini.
Lewat sekuel pertama ini, Pram meunjukkan kontradiksi negatif praktik feodalisme di tanah Jawa yang tak memiliki adab dan jiwa kemanusiaan. Betapa seorang manusia tak dihargai dari hatinya, namun dari pangkat dan golongan mana dia berasal. Layak dijadikan perenungan.
f the mother's day, just I love this book